Hari ini…, Aku menghitung sebuah awal yang baru. Dengan sebuah alasan untuk hidup yang lebih bermakna. Karena Tuhan melimpahiku banyak kebaikan. Aku telah melalui banyak lorong kehidupan. Tentu dengan kekuatan-Nya. Aku mampu melewati ragam kesulitan dan tantangan. DIA ada dan segalanya bagiku. DIA terangku dalam kegelapan. DIA menarik aku dari keputusaasanku. Aku dikelilingi oleh kasih perlindungan-Nya. Cintaku untuk-MU, kupuji Nama-MU, diatas segala nama. Kekuatanku dan mazmurku, Teman sejati perjalananku, membuatku tiada gentar. Karena kutahu DIA ada dan selalu ada disepanjang jalan hidupku. Trimakasihku untuk-Mu pujaan hatiku…selamanya.

Sr. M. Bonaventura Tamba FCJM, selamat merayakan 60 tahun Hidup bersama DIA!

Pengantar

Tuhan tidak pernah ingin kita gagal. Dia berjanji menemani kita setiap hari hidup kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Berapa banyak kita temukan saat kita membaca Kitab Suci bahwa bagi Tuhan tiada yang mustahil, karena hanya Dia yang mampu membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ketika kita berjalan bersama Tuhan, kita memasuki dimensi di mana Tuhan membuka rahasia kerajaannya. Ini adalah jalan yang dahulu ditolak oleh manusia pertama. Nuh tahu rahasia berjalan bersama Allah (Kejadian 6: 9), seperti yang dilakukan Abraham (Kejadian 24:40). Melalui Kristus, kita dapat menjelajahi kekayaan mulia mengenal Tuhan seperti yang mereka lakukan — dan bahkan lebih besar lagi karena Roh yang telah diberikan kepada kita! Demikian juga setiap orang yang dipanggil mengalami hal yang sama bagaimana rahasia perjalanannya bersama si pemanggil.

Siapakah dia?

Namanya Saulina Skolastika Tamba. Dia gadis sederhana yang lahir pada tanggal 13 Juni 1939 di Siringo-ringo, Parlilitan dari pasangan Jamen Tamba dan Mangina Br. Hotang. Sebagai anak ke 8 dari Sembilan bersaudara, dia bertumbuh menjadi anak yang memiliki semangat meraih masa depannya. Keinginan yang dalam akan hal-hal rohani nampak dari cara hidupnya sehari-hari. Saulina dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Namun situasi keluarga yang sedemikian tidak membuatnya berhenti untuk mengejar cita hidupnya. Dia menempuh pendidikan seperti anak-anak lain pada jamannya. Batu adalah alat tulis yang digunakan pada saat itu. Orang tua dan sanak saudaranya sangat menyayanginya. Kasih yang dialaminya dalam keluarga mendorong dia untuk pergi menjadi saksi cinta di hati dunia dengan memilih jalan hidup menjadi seorang Suster. Demikian Sang gadis putri Siringo-ringo ini berkisah….

Jatuh Cinta kepada FCJM

Dari dulu orang tuaku sangat dekat dengan para Pastor, Suster, Frater dan Bruder. Suatu waktu saat mengikuti pesta Pemberkatan Gereja di Pakkat, saya bertemu dengan para Pastor, Suster dan Frater. Mereka menyapa saya dengan sangat ramah. Cara mereka berdoa dan bernyanyi, menunjukkan mereka benar-benar dekat dengan Tuhan dan itulah yang memikat hatiku. Dari perjumpaan itu, saya semakin tertarik melihat mereka. Dan hal yang mengesankan untukku saat seorang Suster berkata saya harus menjadi suster.

Selain perjumpaan itu, mereka juga datang merasul ke stasi-stasi, termasuk stasi saya. Kehadiran mereka membuat hatiku semakin bergelora untuk mengikuti gaya hidup mereka. Begitulah yang terjadi setiap saya berjumpa dengan para suster. Keinginan untuk menjadi seorang suster ini, semakin menggebu-gebu dalam diriku. Sapaan yang lembut, jabatan tangan yang menyentuh seolah menjadi sapaan Tuhan sendiri untukku. Kelembutan dan keramahan mereka adalah bukti kedekatan mereka dengan Tuhan, demikian pikiran polosku. Mereka berdoa, bernyanyi, melayani orang dengan penuh sukacita membuatku tidak punya pilihan yang lain lagi, kecuali harus menjadi Suster.

Keinginan yang bernyala-nyala menjadi Suster itu akhirnya kuungkapkan kepada orang tuaku. Namun mereka tidak menyetujuinya. Sebagai putri kesayangan, ayah dan ibu takut kehilanganku dari sisi mereka. Namun, hal itu tidak mematahkan semangatku. Aku mencari cara yang lebih meyakinkan dan lebih manjur. Pertama-tama saya pergi ke Pastoran Pakkat dan di sana saya berjumpa dengan P. Libreks OFMCap, seorang Pastor dari Belanda. Saya menceritakan keinginan saya menjadi suster. Beliau sangat senang mendengarnya, tetapi dia menginginkan saya masuk Suster SFD. Saya agak kecewa karena saya ingin menjadi Suster FCJM. Akhirnya saya pulang ke rumah dengan menangis.

Tuhan selalu punya cara! Saat aku duduk termenung sendirian muncul sebuah bisikan halus apa yang harus kulakukan. Saya pergi menjumpai saudara sepupu saya Mora Tamba, yang lebih dikenal almarhum P. Hubertus Tamba. Dia seorang seminaris waktu itu. Dialah yang menjadi mediator untuk orang tua saya. Dengan keahliannya sebagai seorang anak seminari dia berhasil meyakinkan hati orang tua terutama ibuku. Dia juga yang mengantar saya ke Susteran FCJM, Pakkat.  Di sana saya berjumpa dengan Sembilan gadis yang secita dan satu keinginan dengan saya. Mereka datang dari berbagai penjuru.

Bersama sembilan gadis itu saya mengikuti pendidikan di SMP Katolik Pakkat walau hanya untuk sementara waktu. Aku dipindahkan ke SGB (Sekolah Keterampilan Mengajar). Awalnya saya merasa bosan dan sedih karena harus terpisah dari teman-teman.  Dalam situasi itu, saya pergi menjumpai Sr. Fransiska dan Muder Regina yang berasal dari Jerman. Saya mengungkapkan kesulitan yang saya alami bahwa saya tidak mampu mengikuti pelajaran di SGB. Saya memohon agar boleh berhenti dari sekolah itu. Betapa bahagianya saat permohonanku itu dikabulkan.  Hari-haripun berlalu dengan lebih indah walau setiap hari saya membantu Muder Regina di dapur.

Pada tahun 1957, saya dan teman-teman saya diantar ke Balige. Di sanalah kami dibentuk, dididik, dan dibina dalam hal kepribadian dan rohani. Setahun kemudian saya memasuk masa postulat. Postulat berasal dari kata bahasa Latin, postulare, yang artinya meminta. “Postulat adalah pendidikan awal seorang calon hidup bakti, entah suster, bruder ataupun imam tarekat. Menurut Hukum Gereja, masa postulat berlangsung selama setengah tahun. Tetapi pada prakteknya hampir semua Kongregasi menjalankan masa postulat selama satu tahun. Orang yang sedang menjalani masa postulat disebut postulan. Tahun 1958 masa Postulat saya merupakan masa yang sulit saat terjadi peristiwa pemberontakan yang mengakibat krisis pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Akhirnya sebagian dari kami dipulangkan ke keluarga demi kelangsungan hidup mereka. Sebagian lagi tinggal bersama para suster. Sayangnya, setelah pemberontakan selesai, mereka yang dipulangkan itu tidak pernah lagi kembali ke biara.

Dalam proses pendidikan dan pembinaan Tarekat Hidup Bakti Religius, setiap calon biarawan atau biarawati selalu melalui dua tahap pendidikan paling penting, yakni masa postulat yang dilanjutkan ke masa novisiat. Setelah melalui dua tahap itu, bila memenuhi syarat seorang calon biarawan atau biarawati diijinkan mengucapkan kaul sementara, sebelum akhirnya mengucapkan kaul definitif, yakni kaul kekal. Sayapun melalui kedua tahap itu dengan ragam pengalaman iman yang tidak selalu mudah untuk dipahami dan dimengerti.

Setelah menjalani tahap pertama yaitu masa postulat, saya memasuki masa Novisiat. Novisiat merupakan masa percobaan, pembentukan, penggodokan, penyangkalan diri dan masa bertapa bagi calon anggota tarekat atau kongregasi. “Masa novisiat adalah masa inisiasi ke dalam hidup membiara. Pada tahap ini saya dilatih mengalami cara hidup khas Tarekat FCJM agar mampu mengetahui apakah saya cakap untuk itu. Selama masa novisiat saya dituntun dan belajar mencocokkan diriku dengan bentuk hidup kongregasi sesuai karisma atau spiritualitas pendiri FCJM. Akhir masa pendidikan ini ditandai bahwa saya diijinkan mengucapkan kaul yang pertama. Tahun 1960, saya diijinkan untuk mengikrarkan kaul perdana. Ada rasa senang sekaligus sedih. Senang karena diterima untuk berkaul, sedih karena harus berpisah dengan teman-teman seangkatan. Dimana setelah pengkraran kaul kami masing-masing diutus dalam tugas pelayanan ke tempat yang berbeda.

MOTTO HIDUP: “Segala Perkara dapat kutanggungjawabi, di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”

 Menjadi suster FCJM berarti siap diutus, berjuang dan harus menjadi berkat bagi semua orang yang saya jumpai. Menghayati hidup sebagai Suster FCJM, terasa dikuatkan dan terinspirasi oleh motto hidupku: “Segala Perkara dapat kutanggungjawabi, di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Teks Kitab Suci yang tertera dalam cincin Kaul seumur hidup tetap menjadi inspirasi dalam memperjuangkan panggilan hidupku setiap harinya. Ada banyak warna pengalaman yang saya jumpai, suka duka hidup yang telah kujalani.  Hingga di usia indah ini, saya tetap berusaha menghidup motto hidupku, sebab aku menyadari dan mengakui, “tanpa Dia, aku tak mampu untuk berbuat apa-apa.” Aku tidak berarti tanpa DIA. Aku dijadikan indah oleh-Nya sendiri.

Spiritualitas FCJM adalah Spiritualitasku

Suatu kebahagiaan dan rasa syukur bagiku bahwa pada usia 60 tahun hidup membiara, aku dapat merefleksikan bagaimana Spiritualitas FCJM telah menjadi spiritualitasku. Aku melihat kembali bagaimana aku telah menjadikan doa sebagai nafas hidupku dengan terus menerus menimba kekuatan dari Hati Mahakudus Yesus dalam Sakramen Maha Kudus. Saat adorasi baik pribadi maupun bersama, aku merasa diberi kekuatan baru, tersentuh, kagum dan terpesona.

Di hadapan Sakramen Mahakudus itu saya mengungkapkan seluruh pengalaman hidup, baik yang menggembirakan sekaligus yang kurang menyenangkan. Tambahan pula, aku berdoa bersama ujud-ujud Kongregasi seperti yang dituliskan oleh Muder Pendiri FCJM dalam Konstitusi Awal – untuk jiwa-jiwa di api pencucian, para pendosa, Gereja dan para pemimpinnya, semua orang yang berbeda keyakinan bahkan bagi mereka yang belum percaya kepada Tuhan .  Dengan cara ini juga aku berjuang menghidupi apa yang diharapkan Muder Clara bagi para pengikutnya yakni menghormati Hati Kudus Yesus dan Hati tak bernoda Maria serta memajukan kebaktian kepada kedua Hati ini. Untuk itu juga dalam usaha pembaktian saya menjalani Spiritualitas Tarekat saya memiliki beberapa prinsip hidup yang terus saya perjuangkan yakni:

  • Ketekunan
  • Kejujuran, Kerendahan hati
  • Kepasrahan kepada Tuhan
  • Kesetiaan
  • Kedisiplinan

Pengalaman iman

Pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto, ada perekrutan dan pengangkatan tenaga kerja dari Tim-tim yang ditempatkan di Perusahaan Indonesia, yaitu Kerinci dan Perawang, yang mayoritas beragama Katolik. Jumlah Imam masih sangat terbatas. Maka demi pelayanan yang lebih baik kepada umat ada pembagian tugas yang tertata dan teratur. Saya mendapat kesempatan untuk melayani umat di Perawang. Awalnya saya merasa tidak mampu dan, bahkan menolak perutusan ini. Karena pada waktu yang sama saya memegang 2 (dua) tugas penting yaitu Guru SD dan Katekis. Tentu kedua tugas menuntut tenaga, pikiran dan keahlian tersendiri.

Jumlah umat terus bertambah, jumlah orang yang mau masuk Katolik juga bertambah. Fasilitas yang masih sangat kurang menjadi tantangan bagiku. Saya banyak berdiskusi dengan Pastor dan umat bagaimana menyikapi kebutuhan mendesak ini, hingga ada kesepakatan. Semangat kekeluargaan dihidupkan dan dihayati oleh umat Gereja. Mereka sepakat dan setuju memberi sebagian dari penghasilan mereka membeli kursi dan melengkapi fasilitas lainnya. Tantangan lainpun muncul juga. Keadaan ekonomi umat yang memprihatinkan, tidak banyak umat yang bisa menyisihkan sebagian hasil kerjanya untuk kebutuhan Gereja. Tantangan itu mendorong saya untuk lebih kreatif lagi, saya berusaha untuk meminta bantuan dengan umat dari Stasi lain. Seiring perkembangan jumlah umat, akhirnya diusulkan agar Stasi Labuh Baru menjadi Paroki. Ide cemerlang ini menjadi tantangan baru lagi untuk saya. Saya menjadi bingung! Ada banyak hal yang muncul dalam pikiran saya. Permohonan ini saya sampaikan kepada Pastor Paroki. Saat itu saya bagaikan mimpi di siang bolong. Bagaimana tidak, karena saya dituduh sebagai provokator dari pemikiran itu. Mendengar tuduhan keras itu saya pulang dengan menangis. Saya tidak menyangka, beliau bisa beranggapan demikian kepada saya. Tentu saja peristiwa itu sungguh membuatku terpukul, patah semangat, saya sangat kecewa, sakit hati, merasa tidak dihargai dan tidak didukung. Usaha saya selama ini terasa sia-sia padahal saya mengusahakan yang terbaik, yang saya pikirkan adalah bagaimana dengan umat Katekumen yang sudah 10 tahun belum juga diresmikan karena kurangnya Pastor.

     “Jalan hidup kita adalah misteri penyelenggaraan Ilahi yang membimbing kita seturut kehendakNya, walaupun kita tidak mengerti.” Kata-kata berharga dari Muder Clara Pfander, pendiri Kongregasi FCJM ini bergema dalam diriku. Kata-kata bijak ini mengingatkan saya bahwa hidupnya penuh dengan disalah mengerti, tetapi dengan mengalaminya, hidupnya menjadi sangat subur karena kepercayaan yang tidak tergoncangkan kepada penyelenggaraan Ilahi. Sebagai puterinya, sayapun tidak menyerah dan patah semangat melayani dan menjalankan tugas di Stasi Labuh Baru. Saya tidak mundur sekalipun lemparan batu datang bertubi-tubi, tapi saya ingin menjadi pemanggul salib yang benar. Dalam doa, aku membawa kerinduan mendalam umat Stasi Labuh Baru. Sebuah lagu yang sering kunyanyikan juga menjadi penyemangatku menjalani hari-hariku: “Tuhan ku tahu Kau selalu dekat denganku”. Semua peristiwa yang mewarnai kehidupanku kupersembahkan kepada Dia. Dalam penyerahan itu kutemukan mujizat yang tak terlukiskan.

Semua indah pada waktunya. Pepatah ini terbukti kebenarannya. Hanya soal waktu. Akhirnya usaha dan perjuanganku tidak sia-sia. Aku bersyukur karena sekarang Stasi Labuh Baru telah menjadi Paroki. Motto hidupku semakin terasa menguatkan: “ Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” dan segala sesuatunya indah pada waktunya.

 Suka dan Duka Hidup menjadi FCJM

 60 tahun sudah aku jalani! Kini, semakin hari saya semakin mantap menghayati kehidupan di Tarekat FCJM ini. Saya tidak pernah merasa menyesal telah ditangkap dan dipilihkan oleh-Nya. Dia mengatur jalan-jalan hidup yang kulalui. Bagaimanapun kondisi persaudaraan ini, saya tetap mencintainya. Kebersamaan dalam persaudaraan, berbagi cerita, bertukar pikiran, saling membantu, menghargai, memperhatikan, mencintai, menyayangi dan saling melayani menjadi keindahan yang mewarnai hidupku sebagai FCJM. Saya belajar terus-menerus untuk memberikan hidup saya untuk persaudaraan, walaupun tak jarang muncul kelemahan manusiawi saya. Dalam setiap masalah yang muncul, Dia selalu ada untukku. Dia tidak pernah meninggalkan. Dia menguatkanku.

Pengalaman kehampaan atau kekeringan dalam hidup bisa menjadi momen untuk semakin menyadari peranan Tuhan dalam hidup. Selama menjalani panggilan hidupku sebagai suster FCJM, saya sungguh sangat bersyukur kepada Tuhan karena karya Tuhan nyata dalam hidupku, sehingga aku berani mengatakan bahwa hidupku dan segala perjuanganku adalah mukjizat. Tuhan selalu ada untukku dalam segala suka dan duka yang kualami. Tanpa Dia aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku selalu berusaha untuk menjadi berkat bagi siapa saja yang aku jumpai setiap hari untuk membalas kebaikannya. Karena ada satu hal menjadi refleksi bagiku dan itu selalu kuungkapkan melalui nyanyian, ketika aku mengalami kesulitan yaitu “Bagi orang benar Tuhan bercahaya laksana lampu di dalam gulita.” Akupun berusaha menjadi cahaya dan berkat bagi semua orang yang aku jumpai dan yang kulayani setiap harinya.

 Syukur Tuhan

Aku bersyukur kepada-Mu dan berterimakasih kepada-Mu, ya Allah atas rahmat panggilan yang Engkau anugerahkan kepadaku melalui Kongregasi FCJM yang mengambil semangat St. Fransiskus sebagaimana dihayati Muder Maria Clara Pfäender. Aku bersyukur kepada-Mu ya Tuhan atas semua kebaikan-Mu yang aku terima dalam perjalanan hidupku mulai dari awal masuk biara hingga hingga sampai aku memasuki masa usia indah dan bahkan Engkau berikan kesempatan untuk merayakan Pesta Syukur atas 60 tahun saya hidup membiara.

Saya bersyukur dan berterimakasih kepada-Mu atas orang tua yang melahirkan, membesarkan dan mendidik aku, seluruh keluargaku yang begitu menyayangiku.

Aku bersyukur atas semua orang yang pernah berbuat baik dalam hidupku, yang memberikan dukungan, semangat dan ikut berpartisipasi dalam panggilanku.

Aku juga bersykur atas Pembinaku, para pembimbingku, para pastor, frater, bruder dan para suster yang ikut serta dalam membina dan membentuk hidup rohani dan kepribadianku. Juga semua orang yang pernah hadir dan bersama dengan aku, Bapa Yang Maha Baik, aku membawakan mereka semua kepada-Mu. Berkatilah mereka semua dengan segala usaha dan perjuangan hidup mereka setiap hari. Dan bagi mereka yang telah Engkau panggil, terimalah jiwa mereka di sisi kanan-Mu dan Engaku izinkan mereka berbahagia bersama para kudus-Mu di surga.

Bapa yang Maha Baik, aku juga berdoa bagi Kongregasiku yang memberi kesempatan untuk merayakan syukur atas 60 tahun hidup membiara melalui pimpinan Kongregasi beserta dewannya. Berkatilah mereka, semoga Engkau menganugerahkan rahmat kesehatan dan kebijaksanaan-Mu agar mereka dapat membawa Kongregasi kami ini ke jalan yang Engkau kehendaki. Dan semoga Kongregasi dan karya-karya kami menjadi bukti cinta kasih-Mu di tengah dunia yang semakin berkembang ini. Pakailah kami semua Suster FCJM, menjadi tanda dan berkat-Mu bagi orang yang kami jumpai dan kami layani setiap hari. Ungkapan syukur ini, kupersembahkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin (Sr. Evifania SInaga FCJM).