Sejatinya, menjadi pemimpin gereja adalah pemimpin rohani yang memiliki tanggung jawab besar, penting dan berat. Ia juga seorang pelayan yang melayani berbagai macam kebutuhan, keluhan, pendampingan, membela kebenaran dan keadilan sampai pada pengembangan semua pihak yang ada dalam naungan kepemimpinannya, entah sebagai pendeta, pastor, bruder, suster, dll yang masuk dalam golongan pemimpin Gereja atau kaum rohaniwan-rohaniwati. Mereka tidak bisa dilepaskan dari berbagai aspek kepemimpinan tanpa pamrih. Sebagai hamba TUHAN, pemimpin sangat bertanggungjawab meneguhkan sikap terhadap diri sendiri serta rumah tangga ataupun komunitasnya, dan sikap terhadap pelayanannya, sehingga ia terbukti layak untuk memimpin umat Allah. Singkatnya, pemimpin Gereja adalah public figure. Apapun jenis tugas yang mereka emban kerap kali bersentuhan dengan kepemimpinan. Itulah sebabnya pemimpin Gereja diharapkan mampu menjadi agent of change pada zaman yang tunggang langgang ini.

Pemimpin Gereja zaman ini juga diharapkan menjadi pemimpin yang tranformatif yang mampu membawa pengaruh positif bagi umat yang sedang digembalakannya, bukan hanya memimpin di altar tetapi juga masuk ke pelataran realita umat yang sedang menanti kehadirannya. Mereka dituntut untuk mampu membawa perubahan hidup yang bermartabat sebagai anak-anak Allah dan membebaskan mereka dari keterkungkungan akibat dosa-dosa sosial secara khusus bagi semua orang yang dipimpinnya dan  secara umum bagi umat Tuhan serta mampu meneropong dunia masa kini dengan membentangkan sayap kepemimpinan untuk melindungi mereka dari keterlantaran oleh musim instan yang nyaman dan menarik itu. Belakangan ini kerap kita baca tentang Participative Leadership, Pemimpin yang terlibat dalam seluruh rangkaian tugas dan system, dan tahu apa yang sedang terjadi. Yesus adalah pemimpin besar. Yesus bisa sibuk mengajar tentang teologi dan kosmos atau sibuk mengadakan mukjizat dimana-mana. Namun Dia juga tahu kapan Petrus perlu bantuan misalnya saat mertua Petrus sedang sakit demam dan butuh disembuhkan.
Namun, para pemimpin Gereja saat ini di tantang untuk memiliki disposisi batin sebagai pribadi yang berani menentang tawaran dunia yang menggiurkan. Mereka dituntut juga untuk memiliki kemampuan untuk menolak hal-hal yang tak berguna bagi perkembangan hidup rohani dan mampu membawa umat Allah pulang dari pelarian yang salah. Hal ini mengajak seorang pemimpin Gereja untuk mencontoh gaya kepemimpinan Yesus. Bagaimanakah gaya kepemimpinan Yesus itu?. Kita berharap pemimpin Gereja yang dikenal dengan orang-orang beriman yang percaya kepada Kristus mempersembahkan hidup dan dirinya untuk sampai ke tanah terjanji  tidak terdistorsi oleh zaman modern dan menjadi korban perkembangan era baru yang menawarkan sejuta kenikmatan dan kenyamanan.

Gaya Kepemimpinan Yesus Kristus

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat, 20 : 26) demikian dikatakan oleh Yesus kepada para muridnya. Hal ini ingin menunjukkan kepada para pemimpin Gereja bahwa menjadi pemimpin Gereja adalah pelayan rohani yang peduli akan masalah manusiawi dan alam serta mampu membawa umat kepada Allah dan mengurusi hal-hal Kerajaan Surga. Hal ini sudah dipraktekkan oleh Yesus sendiri. Yesus tidak hanya duduk manis di Bait Allah tetapi  membentangkan sayap pewartaan dengan melakukan pelayanan kasih. Memperkenalkan Kerajaan Allah yang senantiasa bekerja dalam kehidupan manusia dan menjawab keluhan setiap umat yang dilayaninya melalui pewartaan Kerajaan Allah dengan melakukan pengajaran sabda, penyembuhan bagi yang sakit, membangkitkan orang mati, memberi pengharapan bagi yang putus asa, memberikan penghiburan untuk setiap duka.

Sikap kepemimpinan Tuhan Yesus yang maju melayani orang lain dengan hati hamba mencerminkan kepemimpinan yang menghasilkan pengaruh yang kuat. Yesus sebagai pemimpin bukan hanya mengorbankan diri dan perasaannya sebagai manusia biasa tetapi juga mengorbankan nyawanya. Membasuh kaki para murid-Nya merupakan sikap kerendahan hati yang sejati.  Ini menunjukkan kerendahan hati yang sejati. Yesus membuka tali kebesaran-Nya untuk melakukan pelayanan. Yesus menjadi pemimpin yang sinergik dan transformatif pada zamannya. Pelayanan menjadi prioritas dalam kepemimpinan Yesus.  Kepemimpinannya sangat didasari oleh cinta kasih.

Yesus telah mendelegasikan tugas kepemimpinannya kepada Santo Petrus dan Para Rasulnya serta berlanjut kepada hierarki gereja (pemimpin dalam Gereja) saat ini. Oleh karena itu, umat Allah sedang menanti kehadiran pemimpin yang mampu membawa mereka ke jalan yang benar. Jalan kebenaran itu adalah Kristus sendiri, yang memproklamirkan diri-Nya sebagai : Ego Eimi sum Via, Veritas et Vita, Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Yesus mengajarkan kerendahan hati saat dunia mengajarkan kesombongan, prestise dan harga diri. Maka, hendaknya pemimpin Gereja benar-benar tampil sebagai pemimpin yang memimpin dengan contoh, lead by example.

Sebagai pemimpin Gereja, dalam tugas pelayanan terkadang berbenturan dengan anggota yang ada dalam kepemimpinannya. Namun, seorang pemimpin haruslah memiliki jiwa besar. “Ia harus berlapang hati, berwawasan luas, sanggup merangkul semua dan menyatukan semua orang menjadi satu. Seperti doa Yesus bagi para rasul-Nya, Ut Omnes Unum Sint, semoga mereka semua bersatu”. Secara khusus, Yesus sang Guru dan pemimpin, mengajak para pemimpin Gereja untuk benar-benar memberikan teladan dan contoh nyata bagi orang-orang yang dipimpinnya. Mereka harus mengajarkan cara berbicara dengan berbicara, cara membaca dengan membaca, cara bekerja dengan bekerja dan cara mencintai dengan mencintai, cara berkorban dengan berkorban. Tiada kepalsuan di dalam dirinya.

Epilog
Dalam inji Yohane 10:12 tertulis, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.” Menegaskan perbedaan antara Yesus sang Gembala yang baik dengan seorang upahan. Yesus setia pada domba-dombanya hingga menyerahkan nyawanya bagi domba-domba-Nya, sedangkan seorang upahan meninggalkan domba-domba itu lalu lari ketika serigala datang. Perbedaan ini sangat jelas bahwa kehidupan domba yakni hamba Tuhan terletak juga pada kepemimpinan Yesus sebagai sang Gembala. Demikian halnya dengan umat Kristiani di muka bumi ini. Kemajuan hidup Kristiani terletak juga pada kepemimpinan Gereja itu sendiri.

Kita menyadari bahwa dimensi hidup kristiani sesungguhnya  adalah tanda akan dimensi eskatologis jika hal ini sungguh-sungguh dihayati. Oleh karena itu, tuntutan hidup kepemimpinan Gereja menjadi begitu berat karena situasi jaman “menghendaki” untuk meninggalkan nilai-nilai kepalsuan hidup. Dalam kenyataan keseharian, semakin hari kehidupan kristiani mulai terserat pada arus dunia. Situasi dunia dengan sendirinya masuk dalam hidup menggereja karena memang ruang dimana umat Allah hidup tidak bisa dilepaskan oleh situasi dunia. Apa yang dialami oleh umat Allah saat ini adalah bagian dari sejarah panjang kemajuan jaman. Apakah yang terjadi sekarang itu salah? Pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab, karena setiap hal yang dikerjakan oleh umat kristiani tentunya memiliki pertimbangan dan alasan tertentu sesuai dengan kebutuhan bersama. Hanya ada satu barometer yang bisa dijadikan tanda untuk mengenali situasi ini yaitu ketika kehidupan umat kristiani mulai meninggalkan hidup doa dan Gereja, mereka akan kehilangan kontak dan relasi yang intim dengan DIA yang telah memanggil dan memilihnya. Saat itulah cara hidup mereka sudah larut dalam persoalan-persoalan duniawi.

Kepemimpinan Yesus sendiri adalah kepemimpinan berbasis pelayanan. Sesungguhnya kepemimpinan model ini adalah sumbangan untuk menjadi pemimpin otentik ditengah pertarungan dunia dimana makna pelayanan menjadi dangkal. Kehidupan umat Kristiani yang menjadi pemimpin tidak berada ditengah-tengah situasi ini dan dituntut untuk tetap seutuhnya menjadi pelayan. Itulah makna mengikuti Kristus, menjadi pelayan.  Semoga pemimpin Gereja saat ini mampu meneruskan figur kepemimpinan Yesus sendiri yang diikutinya. (Sr.M.Angela Siallagan)