HUT Ke-44 Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya “Dari Benih Cinta Menjadi Rumah Pengharapan”

Related Articles

 

Senin, 17 November 2025, bertepatan dengan Pesta Wajib St. Elisabet dari Hungaria menjadi hari yang sarat makna bagi Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya. Perayaan ulang tahun ke-44 ini bukan sekadar mengenang perjalanan panjang sebuah lembaga, melainkan merayakan hidup yang disentuh, martabat yang dipulihkan, dan cinta yang terus bekerja dalam diam.

Di bawah tenda besar yang dihias meriah, keluarga besar Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya berkumpul dalam suasana syukur, para suster FCJM, Pengurus Yayasan, para donatur, keluarga besar Sr. M. Jeanette van Passeen FCJM, serta para penyandang disabilitas yang setiap hari menjadi alasan utama karya ini terus berdiri. Tema perayaan tahun ini,“Diteguhkan oleh Iman yang Melihat, Diutus untuk Melayani dengan Mata Kasih”, menyentuh inti perjalanan Harapan Jaya yakni pelayanan yang lahir bukan dari teori, tetapi dari keberanian memandang sesama dengan mata Kristus.

Rangkaian syukur ini diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RP. Emanuel Sembiring, OFM, Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Batu Lima sekaligus Pastor Moderator FCJM Provinsi Indonesia. Dalam perayaan ini, seluruh hadirin diajak kembali pada sumber kasih yang menggerakkan karya Harapan Jaya, iman yang teruji dalam pelayanan, dan kasih yang dihidupi melalui kehadiran nyata bagi mereka yang paling membutuhkan.

Namun, momen yang paling menggetarkan adalah hadirnya pendiri karya ini, Sr. M. Jeanette van Paassen FCJM, yang datang khusus dari Belanda. Beliau bukan sekadar pendiri, beliaulah yang empat puluh empat tahun lalu menanam benih pertama karya belas kasih ini dengan tangan kecil, hati besar, dan cinta yang tak pernah mencari pujian. Ketika beliau hadir di tengah umat, terasa jelas bahwa Harapan Jaya bukan hanya sebuah institusi, tetapi warisan spiritual yang lahir dari karisma FCJM yakni cinta yang bernyala, digerakkan oleh Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria.

Perayaan semakin lengkap dengan kehadiran Dewan Pimpinan Umum FCJM dari Generalat Roma, Sr. M. Magdalena Schmitz dan Sr. M. Evifania Sinaga. Kehadiran mereka menegaskan bahwa Harapan Jaya bukan karya lokal semata, melainkan bagian dari misi kongregasi yang menghadirkan belas kasih bagi yang paling rapuh. Ulos yang dikalungkan kepada sebagai tanda penghormatan bukan hanya simbol budaya, tetapi doa dan harapan agar api pelayanan ini terus menyala.

Dalam sesi penampilan dan doa syukur, para penyandang disabilitas berdiri sebagai pusat perhatian. Wajah-wajah mereka yang tulus, ceria, dan penuh semangat menjadi pengingat bahwa Harapan Jaya bukan hanya tempat tinggal, tetapi rumah pemulihan, di mana setiap pribadi diajak untuk bertumbuh, berkarya, dan percaya bahwa dirinya berharga. Ketika momen foto bersama berlangsung, yang tampak bukan sekadar dokumentasi, tetapi gambaran tentang sebuah keluarga besar yang dibangun dari kesetiaan, ketekunan, dan kasih yang bekerja tanpa banyak suara.

Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya memasuki usia 44 bukan dengan keangkuhan prestasi, tetapi dengan kerendahan hati untuk terus menjadi saluran belas kasih Allah. Para suster FCJM bersama seluruh pendukung karya ini memperbaharui komitmen untuk tetap hadir bagi mereka yang sering diabaikan, untuk tetap melihat dengan mata iman, dan melayani dengan mata kasih. Harapan Jaya lahir dari cinta. Bertahan karena kasih dan terus bergerak karena Roh Kudus menyertai setiap langkah. Semoga Harapan Jaya tetap menjadi terang yang menghangatkan, rumah yang memulihkan, dan tempat di mana pengharapan selalu menemukan jalannya kini dan di tahun-tahun mendatang. (Sr.M.Anita Sitinjak FCJM)

More on this topic

Comments

Advertismentspot_img

Popular stories