KONGREGASI FCJM

Karya Kami

what we do?

PENDIDIKAN

TK, SD, SMP, SMA & SMK

KESEHATAN & REHABILITASI

Pusat Rehabilitasi dan Poliklinik

PANTI ASUHAN

Panti Pius Greccio di Sinaksak

ASRAMA & PKK

Mengelola Asrama Putra & Putri das Karya Pastoral

Kunjungan Pastoral Uskup Sunarko ke Monteluco

Hidup kita ini hanya singkat, sesingkat kita meneguk segelas air dan terus berjalan lagi. Kunjungan pastoral Bapak Uskup Pangkal Pinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM  ke Provinsialat FCJM “Monteluco”, Pematangsiantar pada hari Kamis, 13 Desember 2018 ini tergolong singkat namun penuh makna. Kedatangan Sang Gembala yang didampingi oleh RD. Yusup Warsito membawa kesegaran bagi Kongregasi FCJM khususnya bagi beberapa Suster yang menyambutnya, sesegar udara pagi di bukit Monteluco.

Sr. Theodosia Tinambunan selaku Provinsial FCJM dan beberapa Suster FCJM menyambut kehadiran Bapak Uskup dengan senang. Mereka menunjukkan hospitalitasnya dengan keramahan dan tawa lepas nan renyah disertai seteguk juice dan pisang goreng. Yahhhh….perbincangan dari kumpulan menit itu mengalir begitu saja, tanpa kita berikan arah, tanpa kita tetapkan tempat berakhir. Mengalir, mengalir dan terus mengalir….

Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan pastoral yang singkat dari Bpk. Uskup Sunarko. Mengakhiri kunjungannya, Bapak Uskup mohon berkat Tuhan agar melancarkan tugas pelayanan Kongregasi. Terima kasih atas kunjungan yang membawa berkat bagi kami seperti tertulis dalam kitab Mazmur, 84 : 11, “sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik”.

Dan aku melepaskan kursi rotan itu seperti melepaskan kalimat ini Time is like a river. You can’t touch the same water twice, because the water has passed will never pass again.  (Sr. Angela S. FCJM)

Bersukaria dan Bersorak-sorai di dalam Tuhan (2)

“Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur”

Ada hidup untuk kujalani

Ada sentuhan cinta untuk kunikmati

Tak akan ada waktu saat ini

Tanpa Engkau hadir untukku melalui cinta sesamaku

Bukan mudah untuk berjuang meraih asa

Tidaklah ringan untuk berkorban

Demi kesetiaanku menyusuri perjalanan panggilan ini

Namun Tuhan …

Kebahagiaan hidup tak pernah Kau jauhkan dari padaku

Kau biarkan aku jatuh, untuk menolongku bangkit berdiri

Kau biarkan tubuh ini letih

Untuk memberiku kekuatan menggapai harapan

Kau biarkan aku menangis

Untuk memberiku kelegaan dan sukacita

Kau biarkan aku terdiam dan sepi 

Untuk memberiku nada-nada indah lagu kehidupan

Inilah cinta-Mu

Inilah mutiara putih kasih-Mu

Engkau yang mencintai aku

Engkau yang memanggil aku

Engkau yang memilih aku

Engkau yang menuntun aku

Engkau yang menguatkan aku

Hanya karena Engkau

Aku dapat sampai pada hidupku saat ini

Syukur Tuhan atas segalanya yang kuterima dari kemurahan hati-Mu.

Perayaan Syukur Yubileum Hidup Membiara Suster FCJM (1)

Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Sabtu, 08 /12/2018) dari Kapel Hati Kudus “Bukit Monteluco-Pematangsiantar” terdengar nyanyian pujian indah penuh sorak-sorai dalam Misa Kudus. Kesempatan indah ini menjadi hari spesial bagi Kongregasi FCJM untuk merayakan Pesta Pelindung Kongregasi FCJM Provinsi Indonesia dan secara khusus bagi ke-7 orang suster FCJM yang merayakan Pesta 25, 50, 60 Hidup Membiara. Misa Konselebrasi dengan Selebran utama Uskup Emeritus Keuskupan Agung Medan, Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap., didampingi oleh 40 orang Pastor Konselebran dan sekitar 600 orang biarawan/ti, keluarga Jubilaris dan umat Allah berlangsung begitu meriah. Lantunan lagu dengan suara emas dari panduan suara semakin menambah hikmatnya Perayaan Pesta Syukur.  Mereka yang berbahagia hari ini adalah Sr. M. Gratia Simanullang FCJM (25 thn), Sr. M. Emiliana Situmorang FCJM (25 thn), Sr. M. Maristella Sitorus FCJM (50 thn), Sr. M. Rufina Siringo-ringo FCJM (50 thn), Sr. M. Flora Sihombing FCJM (50 thn), Sr. M. Bonaventura FCJM (60 thn), dan Sr. Benedicta Sianturi FCJM (60 thn).25, 50, 60 tahun hidup dalam persaudaraan FCJM bukanlah waktu yang singkat, maka sebagai ungkapan rasa syukur atas Penyelenggaraan Tuhan dalam hidup mereka, para Jubilaris seia sekata menyerukan “Aku bersukaria di dalam Tuhan dan Jiwaku Bersorak-sorai di dalam Allahku”. Pilihan tema ini mengandung makna yang mendalam bagi para Jubilaris. Melalui perayaan meriah hari ini, mereka telah membuktikan bahwa mereka telah menentukan pilihan yang tepat hidup dalam Persaudaraan FCJM dengan hidup dalam kesederhanaan/bersahaja, memiliki hati yang terbuka dan rendah hati dengan meneladani hati Yesus dan Maria. Mereka adalah wanita-wanita tangguh dalam melayani Tuhan yang telah memannggil dan memilih mereka.Mereka tetap hidup dalam kesetiaan dengan menghadapi berbagai musim dalam perjalanan hidup ini, ujar RP. Elias Sembiring OFMCap,. Moderator FCJM dalam kotbahnya.

Buku Renungan “CAHAYA SABDA” tahun 2017

TERBITAN PERTAMA

Lumen Umbra Dei artinya Cahaya adalah bayang-bayang Allah. Allah yang selalu hadir dan melimpahi hidup kita dengan rahmat-Nya. Buku renungan harian tahun 2017 yang merupakan olahan refleksi biblis oleh para Suster FCJM (Franciscanae Filiae Sanctissimae Cordis Jesus et Mariae) Provinsi Indonesia.
Manusia perlu berpikir dan bersyukur, to think and to thank
serta ber-refleksi untuk menemukan esensi terdalam dari Sabda Allah itu sendiri. Buku ini disusun dalam rangka mengajak kita untuk berfikir dan bersyukur serta berefleksi atas pengalaman suka dan duka harian kita masing-masing, yang disusun berdasarkan Kalender Liturgi Gereja dari Komisi Liturgi KWI tahun 2017. Nama buku renungan “Cahaya Sabda” merujuk pada buku yang berjudul “ Cahaya  di dalam kegelapan”, ditulis oleh M.Aristilde Flake. Buku ini memberi pengetahuan tentang sejarah singkat hidup Pendiri Kongregasi FCJM, yakni Muder Maria Clara Pfänder.
Ungkapan Muder Pendiri sangat konkrit dalam dunia factual saat ini. Situasi dunia yang dinamis, perkembangan teknologi yang melejit, domain kehidupan modern dan serba instan adalah fakta yang tak bisa kita pungkiri. Kita bersyukur atas perkembangan zaman ini, tetapi berhadapan dengan kenikmatan yang ditawarkan oleh perkembangan tersebut, kita harus memiliki kesadaran penuh untuk tetap kuat dalam  menghadapi arus zaman supaya tidak hanyut. Kita hendaknya waspada dan bertekun dalam doa dan sabda Tuhan, sekaligus percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Kongregasi FCJM terinspirasi untuk membantu membawa “Cahaya Sabda” sebagai permenungan Kitab Suci dalam hidup harian kita sebagai putera-puteri Allah.
Tim Penulis menyuguhkan butir-butir refleksi yang dijadikan sebagai cahaya untuk menerangi kehidupan harian kita sebagai pelakon panggung kehidupan dalam berbagai domainnya. Namun, ikhtiar besar ini tidak akan terwujud apabila para penulis tidak bertekun diri untuk memulai berpikir, ber-refleksi dan menulis. Untuk itulah, ucapan terima kasih berlimpah secara khusus disampaikan kepada para Suster FCJM sebagai kontributor yang telah rela menuangkan dan membagikan hasil refleksinya, yakni : Sr. M. Cornelia Silalahi, FCJM, Sr. M. Lydia Simbolon, FCJM, Sr. M. Angela Siallagan, FCJM, Sr. M. Angelina Aritonang, FCJM, Sr. M. Frederika Hasugian, FCJM, Sr. M. Cunera Hasugian, FCJM, Sr. M. Clarita Silalahi, FCJM, Sr. M. Evifania Sinaga, FCJM, Sr. M. Emerensia Sitanggang, FCJM, Sr. M. Emiliana Situmorang, FCJM, Sr. M. Atanasia Manihuruk, FCJM, dan Sr. M. Zita Simarmata, FCJM.
Selain para penulis, banyak pihak turut memberi dukungan dalam menyelesaikan karya ini. Untuk itu, ucapan terima kasih berlimpah juga patut disampaikan kepada kelompok editor yang telah berjuang keras untuk melengkapi tulisan-tulisan reflektif para penulis. Para editor itu, diantaranya : RD. Daniel Manik, Sr. Agnes Tambunan, FCJM, Sr. Bernardine Silalahi, FCJM, Ananta Bangun, dan Stefanus Seo, S.Fil, MPA. Kepada mereka, kami haturkan limpah terima kasih. Terima kasih berlimpah juga disampaikan kepada keluarga besar Kongregasi FCJM atas segala bentuk dukungan dan kerja samanya. Puncak ucapan terima kasih ini dialamatkan kepada pimpinan dan seluruh personil Penerbit dan Percetakan PT. POHON CAHAYA Yogyakarta yang telah berkenan menerima naskah-naskah ini untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Juga kepada semua orang yang berperan penting di belakang layar percetakan dan penerbitan. Kepada anda semua, kami menghaturkan limpah terima kasih.
Gratia Domini cum Omnibus – Berkat Tuhan bagi Semua Orang !!!

Hidupku Kuserahkan Kepada Tuhan

“Hendaknya menjadi pemanggul salib yang benar, supaya mendapat palem kehidupan yang kekal”. (M. M Clara Pfänder)

Memaafkan adalah kekuatan yang membebaskan. Mengasihi adalah kekuatan yang meneguhkan. Mendoakan adalah kekuatan yang mengubah. Dalam mengarungi hidup panggilan ini. Kadang kudiam seribu bahasa. Saat bersimpuh di dekat kaki-Mu. Hanya ada sederet kisah buram yang tergantung di dinding hatiku. Kucoba memetik buah peristiwa satu per satu. tetapi tanganku ragu dan hasratku enggan. Aku sadar bahwa aku sedang duduk bersimpuh di depan salib-Mu tanpa apa-apa. Namun aku yakin Engkau mengubah kekosonganku menjadi segalany. Kekosonganku adalah kehendak dan kerinduan-Mu. Dengan kekosonganku, Engkau akan mengisi harta ilahi-Mu yang kudambakan sepanjang hidupku penuhilah jiwaku dengan kasih setiamu HIDUPKU, KUSERAHKAN KEPADA TUHAN kini dan sepanjang masa. Amin.

Sr. Elisabeth Hasugian FCJM, selamat menjalani angka 60 tahun!

 Pengantar

“Hidupku kuserahkan kepada Tuhan”, inilah motto hidup Sr. Elisabeth yang berpesta hidup membiara 60 tahun. Enam puluh tahun dalam hidup membiara bukanlah waktu yang singkat tetapi sungguhlah sarat makna, karena dijalani bersama Allah yang telah memanggilnya. Apa resep yang digunakan Suster ini hingga mampu setia sampai saat ini? Mungkin kita penasaran akan resep-resep kesetiaan seorang religius seperti Suster ini. Tentulah salah satunya adalah motto hidup yang telah diperjuangkannya dengan menyerahkan hidup dan perjuangannya kepada Tuhan. Dalam setiap detik perjuangan hidupnya ia senantiasa menyerahkan hidupnya kepada Tuhan baik saat suka maupun duka seperti lagu yang dinyanyikan Johan Chrisdianto yang berjudul “Tuhan Inilah Hidupku”.

International Human Solidarity Day

December 20—International Human Solidarity Day is a day dedicated to celebrating unity in diversity. Solidarity is one of the fundamental human values and it is what underpins all international cooperation.  At a time when climate change threatens to destroy our planet as a place suitable for human habitation, solidarity is essential, since we are all in this together.  This example of climate change has opened our eyes in a new way to the power of solidarity.  Solidarity among grassroots people also recently brought about the signing of the international agreement outlawing nuclear weapons.  Even though no nuclear nations signed on to this agreement, it was supported by 191 other nations, showing that solidarity on this issue will eventually be successful at bringing about an end to nuclear weapons.  When the people of the world stand united, we can accomplish great things.
International Human Solidarity Day is:
a day to celebrate our unity in diversity
a day to remind governments to respect their commitments to international agreements
a day to raise public awareness of the importance of solidarity
God, we ask that you bless all your people throughout the world in their desire for justice, peace, freedom and protection of the environment. Inspire us as we listen deeply to one another and build solidarity among us so that together we can face the many challenges of our global community.

December 25
Merry Christmas!
In this Season of Peace, may we dedicate ourselves anew
to peace, solidarity, justice, compassion and love.

International Migrants Day

On December 18, 1990, the General Assembly adopted the international convention on the protection of the rights of migrant workers and members of their families. Migrants often flee their own countries in a desperate search for safety and a way to feed their families.  For the most part, they seek stability, safe from fear and intimidation, shelter, food, water and a future of hope.  Although they frequently face many obstacles when they settle in a new country, they also contribute culturally, economically and socially to their host country.  Globally, migration has become a growing problem, due to wars, drug and gang violence, political oppression, drought and flooding due to climate change, and religious persecution.  Rather than welcoming the stranger, many countries have retreated into a globally rising nationalism that demonizes migrants as “the other”, stoking fear, mistrust and hatred leading to violence.  International Migrants Day serves to celebrate the movement of migrants and their contribution to world development.  Globalization has made the world a much smaller place than it previously was. Humans have always migrated but now they do so much faster and much further, many of whom risk their lives trying to reach a safer land with more opportunities.  On this day, we are called to join together to protect the rights of migrants, helping them in their journey and to settle in their new countries in order to find hope and peace.

Holy One, we pray for your protection and blessing on migrants throughout the world. Keep them safe from exploitation and abuse. Help them to find the work, housing, nutrition and healthcare that they need to support themselves and their families. Help us to open our hearts and our homes to welcome the stranger in our midst, in whatever ways we can. Give hope to those who feel lost and hopeless. Give joy to the sorrowing and security to the vulnerable. Most of all, make me a channel of your peace, understanding and love.

Human Rights Day

December 10—This day marks the culmination of a year-long celebration in the 70th anniversary of the UN Universal Declaration of Human Rights on December 10, 1948. This document powerfully declared that all persons, by virtue of their inherent human dignity, have certain rights and freedoms, including a right to education, a decent living, health care and a right to live free from any form of discrimination. This declaration of human rights was built on what were recognized as universal human values, to be honored by all nations.  Although we are still far from realizing the ideals set forth in this declaration, it still stands as a beacon guiding all nations towards peace with justice based on its principles.  The very existence of this document calls all of us to strive for its fulfillment.  It also demands that we constantly re-examine ourselves and our national and international structures and priorities to see how to move forward in a way that better embodies the hopes and aspirations expressed therein.

We pray for all people of the world.  May all of us respect and support one another, realizing that we are all brothers and sisters.  Help us to honor and safeguard the dignity and freedom of every person.  May we work every day to protect and cherish the rights and freedoms that we have and that all of us desire.  Give us the insight and wisdom to move forward each day on the path of peace with justice. (Shared by Sr. Beatrice Hernandez).

International Anti-corruption Day

December 9—Corruption involves an abuse of entrusted power by dishonest or unethical conduct that leads to personal gain. It takes many forms: intimidation, especially of those without power, in order to hold onto power; bribery; corruption of the electoral systems; silencing of whistle blowers; lawbreaking without having to face consequences because of one’s power position within the community; etc. It undermines social and economic development. Corruption affects all countries of the world, undermining moral integrity and destroying honesty and loyalty. This day calls people around the world to reject corruption wherever it is found in their communities. By making this way of acting unacceptable, and by refusing to cooperate with corruption, ordinary people can again begin to take control of their lives and to build a society of integrity and justice.

Lord, help us to create just societies where every person is equal under the law and where each person’s dignity and safety is protected by just laws. Help us to confront corruption and give us the courage to refuse to participate in it. Let us each work for the common good, so that all may be able to live in freedom.

International Day of Persons with Disabilities

December 3 is a day for raising awareness of, and helping to create real opportunities for, people living with disabilities. This year’s theme is: Empowering persons with disabilities and ensuring inclusiveness and equality. Unfortunately, in many places in the world people with disabilities are shunned and excluded from participating in civil society. Even when not overtly shunned, those who are physically limited often face barriers to their participation. Society limits itself whenever any member of society cannot participate to his or her fullest potential. This day calls all of us to listen to persons with disabilities, to see what limits them and how we can improve their participation. People with disabilities face negative stereotypes, difficulty communicating, and physical, social and other barriers that prevent them from learning, living, working, and playing in their communities. Together, we can create inclusive communities where people with disabilities can be healthy and lead full, active lives.

God, we thank you for health, life and love. We know that while each of us has limitations, some people with physical disabilities struggle daily to participate in even the ordinary activities of life. Help each of us to listen to our disabled brothers and sisters, so that we can all become more aware of their needs. Open our heart to respond generously so that we can remove barriers to participation whenever we become aware of them. Bless us with growth in awareness so that we can all work together for the common good. (Shared by Sr. Beatrice Hernandez).