“Masa depan selebihnya berada di tangan Tuhan, saya merasa jauh lebih mudah untuk menerima hari ini karena kemarin sudah berlalu dan besok belum datang dan saya hanya ada untuk hari ini”

(St. Teresa dari Kalkuta)

 Untuk apa aku hidup di dunia ini? Pertanyaan ini seringkali menghantui pikiran kita. Bagi saya sendiri pertanyaan ini datang saat saya dalam keadaan sedih, gagal dan sepi. Merasa bahwa hidup ini menjemukan dan membosankan.

Rick Warren dalam bukunya yang berjudul “The Purpose Driven Life”, Hidup yang Digerakkan oleh Tujuan membahas tentang apa tujuan saya hidup di dunia ini. Buku ini membimbing pembaca untuk mengalami perjalanan spiritual pribadi selama 40 hari untuk menjawab pertanyaan paling penting “Untuk apa aku hidup di dunia ini?” Menurut Warren bahwa kehidupan dapat dijabarkan dalam tiga metafora untuk memandang kehidupan dari sudut pandang Allah yaitu: Kehidupan adalah sebuah ujian, kehidupan adalah sebuah kepercayaan, dan kehidupan adalah sebuah penugasan sementara. Manusia diajak untuk memahami tujuan Allah bagi hidup manusia di muka bumi ini. Tujuan hidup kita bukan sekadar takdir semata tetapi menjadi persembahan bagi Allah. Allah menciptakan kita menjadi kesenanganNya, dengan menyembahNya sepanjang waktu. Allah ingin mengajak kita untuk memahami betapa berharganya kita di mata Allah. “Persembahan” itu yakni kehidupan kita sendiri.

Semakin menuanya usia seseorang, semakin bertambahlah kesensitifan orang tersebut. Coba kita perhatikan orangtua kita masing-masing. Mereka mengalami sensitivitas yang terus meningkat dari hari ke hari. Kadangkala, mereka melebihi dari sifat anak-anak. Jika tersinggung, marah, atau tidak dituruti perkataan dan kemauannya, mereka akan mengambek melebihi anak-anak. Hal ini tidak dapat dipungkiri dan tidak dapat juga dihindari. Alami terjadi. Maka, di usia ini seringkali tingkat kegalauan semakin tinggi dan hampir tak mampu lagi melihat kebaikan dalam dirinya dan orang lain. Rasa malas dan bosan membuat hari-hari hidup semakin jemu dan waktu berputar amat lama. Dalam situasi seperti ini banyak diantara mereka yang malas juga memberikan waktu kepada Tuhan.

Rick Warren pernah mengatakan bahwa kita diciptakan oleh Allah untuk menikmati kehidupan yang diberikan oleh pencipta itu sendiri. Allah ingin melihat kita tetap bahagia entah masih muda maupun sudah tua. Allah yang menjamin hidup kita ini. Perubahan-perubahan perasaan yang terjadi karena bertambahnya usia kita hendaknya kita terima dan syukuri karena setiap orang akan mengalaminya, kecuali yang sudah menghadap pencipta di usia mudanya. Kita bersyukur diberikan umur yang panjang sehingga masih sempat menikmati masa senja, masa istirahat dengan jenjang waktu yang cukup untuk berdiam bersama Allah sebelum Dia memanggil kita untuk tinggal tetap bersama Dia. Maka, mari kita mempersembahkan hidup kita bagi Allah, keluarga dan masyarakat sekitar dengan hidup rukun, damai dan bersaudara. (Sr. Angela Siallagan FCJM)

Doa :

Tuhan Yesus yang Mahabaik, kami bersyukur atas kehidupan yang Engkau berikan kepada kami. Kami bersyukur juga atas umur yang panjang sehingga kami mampu menikmati usia senja ini. Kami mohon kepadaMu, berikanlah kami kesabaran agar mampu menerima hidup ini dengan penuh syukur sehingga kami ingin tetap diam bersama Engkau saat hidup di dunia ini maupun saat bersama Engkau kelak dalam Kerajaan Surga. Amin.