Cahaya redup dari matahari senja, tak begitu menyilaukan mata bahkan terlihat begitu anggun dan menawan. Cahaya jingga yang menghiasi langit di ufuk barat, melukiskan sebuah ketenangan bagi yang melihatnya. Senja yang sungguh membahagiakan Syukur karena telah menikmati limpahan rahmat. Selama 60 tahun lamanya hidup sebagai FCJM. Namun, tak dapat dipungkiri, bahwa Senja membawa suatu kesedihan akan ada perpisahan cahaya terang menjadi redup tiba waktunya mempersiapkan diri menyambut senja hidup sebagai usia indah, kupersembahkan diriku, dalam kesatuan yang mesra dengan Dia dan bila sudah tiba waktunya, aku siap berkata bersama M.M.Clara Pfaender Ini aku Tuhan, aku sudah siap …

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia, yang memberi kekuatan kepadaku”. Iinilah motto hidup Sr.Benedicta Sianturi yang berpesta 60 tahun hidup membiara di FCJM. Ketika menuliskan kalimat “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” Paulus sedang berada di penjara. Kondisi yang sebenarnya tidak lazim untuk menguatkan orang lain. Namun, rupanya kehidupan rohani, mentalitas, dan karakter Paulus sudah berkembang sedemikian rupa, sehingga dalam situasi apa pun, ia tetap dapat menguatkan orang lain. Paulus hidup bersama dengan kekuatan Roh-Nya, sehingga ia tetap mampu memberi dorongan, nasihat, bahkan menguatkan orang lain, sementara ia sendiri sebenarnya sedang mengalami penderitaan.

Roh yang bekerja dalam diri rasul Paulus, juga bekerja dalam kehidupan kita teristimewa di dalam diri Sr.Benedicta yang merayakan pesta 60 tahun hidup membiara sebagai FCJM. Dalam perjuangan hidupnya selama 60 tahun beliau banyak mengalami tantangan dan pergulatan hidup. Namun, sekalipun mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya suster ini juga masih tetap teguh, tangguh,  bahkan masih mampu menginspirasi orang lain dalam tugas dan panggilan hidupnya. Masa-masa sulit tidak membiarkannya terlena dan putus asa tetapi tetap tangguh, kuat, sambil setia menanti pertolongan-Nya, serta membiarkan dirinya menjadi berkat. Dia benar-benar mengingat kata-kata Rasul Paulus: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia, yang memberi kekuatan kepadaku.” Sabda Yesus yang menjadi kekuatan hidup yang dapat menolong, memenuhi keperluan hidup dan tak pernah mengecewakan seperti Lirik Lagu Sound Of Praise – Segala Perkara.

Kenangan Masa Kecil

Tiolina Theresia Sianturi, adalah nama kecil Sr.M.Benedicta Sianturi. Dia lahir pada tanggal 19 Agustus 1940 di Sibintang – Huta Lobu, Barus. Dia adalah anak dari Hiskia Sianturi  dan Ginomgom br. Tarihoran. Dia adalah anak ketujuh dari 9 bersaudara dan dari dua ibu. Ibu yang pertama meninggalkan  tiga orang anak, dan ibu yang kedua melahirkan enam orang anak. Suster ini adalah anak yang keempat dari ibu yang  kedua.

Tertarik Menjadi seorang suster

Sewaktu masih kecil tepatnya waktu SD, seorang pastor Capusin selalu mengatakan kepada Tiolina Theresia cocok menjadi seorang suster. Pada saat itu, dia meminta langsung kepada kedua orang tuanya sambil bertanya dalam hati sanubarinya “Apa itu suster?” Sewaktu liburan panjang,  dia dan seorang teman yang masih keluarga  pergi libur ke rumah Namborunya di Sibolga yang kebetulan dekat dengan rumah suster. Kurang lebih 1 minggu mereka berdua berada di sana. Setiap hari mereka sering melihat dan mendengar para suster dan calon suster berdoa. Dia begitu senang mendengar doa para suster tersebut. Maka, ketika para Suster sedang berdoa, dia selalu melihat dan mendengarkan dari jalan. Ternyata seorang suster itu tidak hanya berdoa tetapi juga bekerja, seperti mengajar di sekolah-sekolah.

Liburan telah selesai dan mereka meninggalkan Sibolga untuk kembali ke kampung halamannya yaitu Pangaribuan. Tak lama berselang, suster-suster dari Sibolga datang berkunjung ke tempat mereka. Pada saat itulah Thertesia memberanikan diri untuk berbicara dengan mereka tentang kehidupan sebagai seorang suster.

Pada tahun 1945, adalah masa berat bagi suster ini karena dia  kehilangan kedua orang tuanya untuk selama-lamanya. Keadaan pun berubah, rencana untuk membangun rumah semuanya gagal. Dia bersama enam orang saudaranya  harus berpidah-pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain.  Akhirnya mereka tinggal  menetap di rumah Ompung di Sihorbo dan melanjutkan sekolah di sana hingga selesai.  

Memasuki hidup Baru dalam Biara

Seperti apakah biara itu? Pada  Juli 1955, Pastor yang sering datang berkunjung ke stasi suster ini, menyempatkan diri singgah di rumah untuk menanyakan perihal sekolah suster ini. Pada waktu itu juga pastor itu membawa suster ini  ke Susteran Pakkat. Itonya pada saat itu tidak setuju, tetapi dia segan untuk mengatakannya kepada Pastor. Namun, karena telah disetujui kedua orang tuanya dulu, maka itonya pun merelakannya. Setelah sampai di sana,  beberapa lama kemudian  para calon pun berdatangan dari berbagai tempat. Para Aspiran cukup ramai dengan jumlah 9 orang. Tetapi karena  pada saat itu terjadi kekurangan makanan, maka 4 orang temannya harus  kembali ke rumah orang tuanya.           

Meskipun pada waktu itu adalah masa-masa sulit atau musim kekurangan pangan, tetapi mereka tetap bersemangat menjalani segala rutinitas yang ada. Mereka sangat senang dan bahagia dan semakin bersemangat  karena mereka akan menjadi seorang suster. Tak peduli walau setiap hari mereka makan ubi yang penting keinginan hati untuk menjadi seorang suster tercapai. Mengikuti les yang diberikan oleh Pastor dan menulis karena pada waktu itu belum banyak buku yang terbit seperti sekarang ini.

Sebagai calon, kadang kala terjadi ketidakcocokan dan salah faham satu sama lain terutama kakak kelas, tetapi mereka mengalah demi suatu nilai hidup panggilan dan hidup bersama yang lebih baik.

Masa-masa Indah dalam Hidup Persaudaraan

Tanggal 22 Agustus mereka pun memasuki masa novisiat. Setelah 1 tahun berlangsung masa novisiat, salah seorang teman mereka pulang ke rumah orang tuanya. Masa novisiat dijalani dengan penuh keseriusan dan kemudian mereka dapat menyelesaikannya dengan baik. Akhirnya kaul perdana telah menanti dan mereka diperkenankan untuk mengikrarkan kaul perdananya. Selanjutnya mereka diutus ke berbagai tempat dengan tugas yang berbeda. Ada yang di rumah tangga dan ada di sekolah. Setiap tahunnya mereka jalani dengan semangat  meskipun banyak tantangan yang dihadapi, namun mereka dapat saling membantu dan meneguhkan satu sama lain.

Saat yang dinanti-nati pun tiba, tepatnya pada 25 Juli 1966  merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi mereka karena Kongregasi memperkenankan mereka untuk kaul kekal seumur hidup. Setelah hari bahagia ini selesai mereka pun kembali ke tugas masing-masing,  ada yang kuliah di Medan, Jawa dan Sr.Benedicta pergi ke Bukit Tinggi untuk mengambil jurusan guru TK dan SD.

Pada waktu yang tepat suster ini pun dapat menyelesaikan studinya dengan baik dan dia di utus ke Tanjung Balai, Balige, Pakkat, dan Onan Runggu. Suka duka dalam perjalanan selalu menghiasi hari-harinya. Untuk pertama kalinya pada 12 April 1978 di utus ke Parlilitan. Kurang lebih 2 tahun membantu di sana dan kembali ke Balige untuk mengajar dan mendampingi asrama. Banyaknya tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada beliau. Di tengah-tengah kesibukan suster ini pun pernah jatuh sakit. Tetapi walaupun suster ini sangat lemah, dia tetap juga melaksanakan tugas hariannya dengan baik sekalipun kurang waktu untuk istirahat.

Suka duka dalam meniti panggilan hidup

Dalam kehidupan selanjutnya suster ini berkisah… Sekalipun aku bahagia di biara, namun aku  mengakui bahwa perjalananku tidak mulus. Saya mengalami kurang adanya dukungan dan perhatian dari persaudaraan termasuk ibu rumah, bahkan justru terjadi yang sebaliknya dengan menerima kata-kata kasar yang tidak kuinginkan. Karena tidak tertahankan lagi maka sempat tersirat dalam hatiku untuk meninggalkan biara, tetapi muncul lagi pemikiran baru bahwa keputusan itu kurang pas.

Maka dalam situasi hati yang kurang enak saya pun meminta untuk eksklaustrasi. Selama 2 tahun saya hidup di luar biara dan tetap mengajar di SD. Setiap harinya saya tidak pernah berhenti untuk berdoa, mohon pencerahan dari Tuhan atas jalan yang akan saya lalui dan tempuh. Memang selama dua tahun saya merasa senang hidup di luar biara karena tidak banyak pikiran yang mengganggu hidupku, tetapi hatiku selalu merasa gelisah dan ada sesuatu yang kurang lengkap. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali masuk biara dan hidup kembali dalam semangat persaudaraan FCJM, karena dengan penuh keyakinan saya merasa bahwa hidup dan kebahagiaanku adalah berada di FCJM.  Sekembalinya aku ke Kongregasi FCJM ternyata  selang 2 hari lagi akan merayakan pesta perakku bersama teman saya. Namun, pada waktu itu saya tidak ikut merayakan pesta perak dan meminta untuk tahun depannya.

Tahun 1984 aku pun merayakan pesta perak hidup membiara di FCJM dan setelah itu saya pindah komunitas ke Tanjung Balai dan bertugas sebagai Ibu komunitas. Tugas yang diberikan kucoba melaksanakannya dengan baik. Di Tanjung Balai, berhubung rumah kita berada di tempat yang ramai (di kota), maka pada saat itu kami berusaha mencari tempat yang cocok. Setelah berjuang dan atas bantuan Bapak Sidabutar, kami pun akhirnya memperoleh sebidang tanah rawa-rawa dan selanjutnya dibangun komunitas baru yang letaknya di Jalan Abadi, tempat komunitas kita sekarang.

Dari Tanjung Balai saya dipanggil lagi untuk membuka komunitas dan sekolah di Medan Jl. Anggrek, untuk pertama kalinya. Hari-hari hidupku di sana kujalani dengan penuh suka cita dan perjuangan. Tahun berikutnya ada penambahan ruang kelas karena ada penambahan murid dan guru.  Begitu rahmat Tuhan melimpah ruah tahun demi tahun.

Tahun 1991 saya pindah ke Air Molek untuk memperbaiki sekolah yang sudah ada. Maka dengan sekuat tenaga kami berusaha untuk meningkatkan kualitas dan fisik sekolah di tempat ini. Sekitar 150 orang murid SD dari kelas I-VI dan ditanggungjawabi oleh 3 orang. Kurang lebih 1 tahun perbaikan bangunan pun selesai dan murid-murid mulai bertambah tahun demi tahun. Kami merasa sangat senang karena 5 tahun berturut-turut murid-murid SD dan SMP lulus 100%. Meskipun sangat sibuk di sekolah bahkan terkadang kerja dari pagi sampai malam, kami masih mampu meluangkan waktu untuk hidup berkomunitas.

Selain itu, saya bersama Sr Avelina sebagai provinsial mencari dan membeli sebidang tanah untuk lahan sawit demi masa depan komunitas dan akhirnya kami menemukan lahan yang telah ditanami dengan kelapa sawit dan juga lahan kosong. Selama 11 tahun lebih saya tinggal di komunitas Air Molek. Semua usaha yang kami lakukan berjalan dengan baik walau kadang menghadapi banyak tantangan. Meskipun pekerjaan sudah diupayakan dengan baik, masih ada saja yang membuat hati risih karena dicap tidak bertanggung jawab. Banyak perkataan yang kurang enak kudengar, tetapi semua itu kubawakan dalam doaku dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan tahu dan melihat apa yang saya lakukan dan Tuhan akan selalu mendampingi saya.

Pindah lagi ya…

Tahun 2003 aku pindah ke Sinaksak untuk membantu di Panti Asuhan dan tahun berikutnya  (2004) saya pindah  ke Atambua. Di sana kami tinggal di rumah keuskupan yang pada waktu itu sedang kosong. Saya dan Sr.Ignatia ditugaskan untuk membuka sekolah TK. Waktu itu belum ada perlengkapan yang  memadai. Pertama kami harus bicara ke pastoran mengenai tempat. Pastor yang di situ pun menunjukkan ada tanah di samping gereja. Setelah itu aku terus berpikir apa yang harus kukerjakan terlebih dahulu? Temanku ini memang baik tetapi dia terlalu hemat, hingga segala urusan pun sulit untuk mengeluarkan biaya.

Saya juga sering mengikuti rapat-rapat bersama dengan umat dan pengurus gereja untuk mempermudah urusan tanah di sana dan urusan sekolah. Saya merasa beruntung saat itu  karena ada seorang Bapak yang senantiasa membantu untuk urusan tanah ini. Perjalanan jauh saya tempuh demi terlaksananya  segala tugas ini. Suka duka dalam mengerjakan tugas ini dengan segala persoalannya  kujalankan dengan baik. Banyak kesulitan yang terjadi di sekolah apalagi soal dana, namun cukup banyak para pejabat yang rela membantu. Dengan demikian, terpenuhilah sedikit demi sedikit kebutuhan sekolah. Kira-kira satu setengah tahun murid-murid sudah lengkap tiga kelas.

Sesudah pesta 50 tahun aku jatuh sakit, mengalami pendarahan dan dibawa ke Rumah Sakit. Setelah kembali berselang beberapa hari,  aku sudah kembali ke sekolah, karena ada pembenahan ruang kelas. Hanya selang 1 minggu untuk membereskan dan membersihkan seluruh ruangan kelas karena akan dipakai setelah selesai libur. Seluruh tugas yang kutangani kukerjakan dengan baik dan serah terima kepada Sr. Gabriela yang akan menggantikan saya telah berjalan dengan baik.

Akhirnya, aku kembali ke Sumatera dan langsung ke RS. Elisabet Medan untuk pemeriksaan lebih lanjut tentang kesehatan saya. Setelah di foto nampak banyak lubang-lubang di usus besar. Kurang lebih 1 bulan aku harus istirahat, dan beberapa minggu kemudian aku  sudah pulih kembali.

Setelah menjalani masa pengobatan dan sembuh, saya ditugaskan kembali ke panti. Terasa sangat berat, tetapi demi  ketaatan akhirnya saya pergi. Selama beberapa minggu saya bersama Sr Clara dan kemudian dia tinggal dengan komunitas. Kami dapat serah terima tugas dengan baik, sekalipun terkadang ada ketidakcocokan. Tetapi aku sendiri datang dan bekerja di panti bukan karena kehendakku sendiri, namun karena ditugaskan oleh pimpinan. Walaupun seperti itu saya tetap melakukan segala tugas yang diberikan kepadaku. Fasilitas yang masih minim, dan hampir semuanya dimulai dari nol. Tak pernah saya berharap supaya dipuji orang. Segalanya kulaksanakan tanpa ada maksud di baliknya. Meskipun banyak kata-kata yang kurang enak kudengar, aku tak pernah patah semangat karenanya, aku tetap berjuang memberikan yang terbaik. Tuhanlah yang tahu semua apa yang telah saya kerjakan. Tahun ke-4 saya di sana, saya mengalami  sakit karena jatuh. Tangan dan pinggangku retak. Akhirnya saya pindah ke Monteluco.

Pengalaman Iman

Sekalipun saya mengalami sesuatu yang pahit dari persaudaraan, dan bukan maksud negatif hasilnya akan kelihatan. Segala gerak dan langkahku menentukan sikapku. Dalam keheningan batin aku dapat menghadapi segala persoalan dan tantangan yang ada.  Aku kuat dan mampu bertahan karena Tuhan yang selalu melindungi dan memberikan rahmat-Nya bagiku. (Sr. Lydia Simbolon FCJM).

Aku tetap berpegang pada Sabda Tuhan dan menjadi motto hidupku

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”